SAY NO TO PERNIKAHAN DINI

By fahrian 23 Agu 2018, 11:27:21 WIB Hukum
SAY NO TO PERNIKAHAN DINI

Oleh : Iba Nurkasihani, SH

Pernikahan dibawah umur masih saja marak terjadi, hal tersebut banyak kita lihat tersebar viral di berbagai media sosial. Sebagaimana kita ketahui bersama, yang terbaru adalah pernikahan pasangan belia asal Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Pasangan IR (15) dan ZA (14) sempat menikah, meski akhirnya pernikahan itu dibatalkan. Keduanya mengaku bertemu pertama kali di pasar malam di kampungnya dan berlanjut ke tahap obrolan via media sosial. Takut fitnah dan menghindari zina dijadikan alasan pernikahan keduanya beberapa waktu lalu. Miris rasanya kita melihat kejadian tersebut. Anak – anak yang masih muda belia yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah dan bermain bersama teman-teman sebayanya tapi sudah melakukan pernikahan yang mungkin mereka sendiri belum tau apa hak dan kewajiban akibat yang timbul sesudahnya dan esensi dari pernikahan tersebut.

 

Permasalahan nikah di bawah umur bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Praktek ini sudah lama terjadi dengan begitu banyak pelaku. Bukan hanya di kota besar tapi juga di  pedalaman. Sebabnyapun bervariasi, karena masalah ekonomi, rendahnya pendidikan, pemahaman budaya dan nilai-nilai agama tertentu, media massa dan kemajuan teknologi, karena hamil terlebih dahulu (kecelakaan atau populer dengan istilah married by accident), dan lain sebagainya. Selain menimbulkan masalah sosial, nikah di bawah umur bisa menimbulkan masalah hukum. 

Dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun.  Namun penyimpangan terhadap batas usia tersebut dapat terjadi ketika ada dispensasi yang diberikan oleh pengadilan ataupun pejabat lain yang ditunjuk oleh kedua orang tua dari pihak pria maupun pihak wanita (Pasal 7 ayat 2). Sedangkan dalam Pasal 15, Kompilasi Hukum Islam (KHI) menyebutkan bahwa batas usia perkawinan sama seperti Pasal 7 Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1974, namun dengan tambahan alasan “untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga”.

 

Dari kesimpulan Pasal 7 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Pasal 15 Kompilasi Hukum Islam tersebut, secara eksplisit tidak tercantum jelas larangan untuk menikah di bawah umur. Penyimpangan terhadapnya dapat dimungkinkan dengan adanya izin dari pengadilan atau pejabat yang berkompeten. Namun demikian perkawinan di bawah umur dapat dicegah dan dibatalkan. Pasal 60 KHI menyebutkan pencegahan perkawinan dapat dilakukan bila calon suami atau calon isteri tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan menurut hukum Islam dan peraturan perundang-undangan. Yang dapat mencegah perkawinan adalah para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah, saudara, wali nikah, wali pengampu dari salah seorang calon mempelai, dan pihak – pihak yang bersangkutan. Sedangkan dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa perkawinan dapat dicegah, apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat melansungkan perkawinan.

Pasal 16 KHI menyebutkan bahwa  “Perkawinan didasarkan atas persetujuan calon mempelai. Bentuk persetujuan calon mempelai wanita, dapat berupa pernyataan tegas dan nyata dengan tulisan, lisan, atau isyarat, tapi dapat juga berupa diam dalam arti selama tidak ada penolakan yang tegas”.

Meskipun Undang-Undang Perkawinan mensyaratkan bahwa perkawinan diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 tahun, namun sebenarnya menurut hemat saya pribadi umur tersebut masih dianggap belum matang untuk menikah. Karena pada saat pria berumur 19 tahun biasanya masih duduk di bangku kuliah dan wanita yang berumur 16 tahun masih sekolah SMA. Artinya baik dari segi materi, mental dan emosi masih belum benar- benar siap.

Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan dari pernikahan dini diantaranya dari segi pendidikan, kesehatan dan psikologi. Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa seseorang yang melakukan pernikahan terutama pada usia yang masih muda, tentu akan membawa berbagai dampak, terutama dalam dunia pendidikan. Dapat diambil contoh, jika seseorang yang melangsungkan pernikahan ketika baru lulus SMP atau SMA, tentu keinginannya untuk melanjutkan sekolah lagi atau menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak akan tercapai atau tidak akan terwujud. Hal tersebut dapat terjadi karena motivasi belajar yang dimiliki seseorang tersebut akan mulai berkurang karena banyaknya tugas yang harus mereka lakukan setelah menikah. Dengan kata lain, pernikahan dini merupakan faktor menghambat terjadinya proses pendidikan dan pembelajaran.

Dari segi kesehatan, perempuan yang menikah di usia dini memiliki banyak resiko, sekalipun ia sudah mengalami menstruasi atau haid. Ada dua dampak medis yang ditimbulkan oleh pernikahan usia dini ini, yakni dampak pada kandungan dan kebidanannya. Penyakit kandungan yang banyak diderita wanita yang menikah usia dini, antara lain infeksi pada kandungan dan kanker mulut rahim. Hal ini terjadi karena terjadinya masa peralihan sel anak-anak ke sel dewasa yang terlalu cepat.

Dari segi psikologi, ditinjau dari sisi sosial pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif.

Dari beberapa hal tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa pernikahan  adalah hal yang sangat sakral dan bukan hal yang mudah. Oleh karena itu untuk menuju ke jenjang pernikahan dan berumah tangga, paling tidak harus dipersiapkan dengan matang baik dari segi usia yang cukup umur untuk menikah, pendidikan, pekerjaan, materi, dan juga kesiapan mental, fisik  dan juga emosi. Semoga anak – anak Indonesia pada umumnya dapat berfikir demikian sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Dan juga diharapkan Pemerintah sebagai pemegang kebijakan turut andil dalam melindungi anak dari pernikahan anak terlalu dini dengan memperbarui kebijakan yang ada terkait usia pernikahan yang diperbolehkan. (INK)




Tulis Komentar di Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar


Jejak Pendapat

Bagaimana menurut anda Informasi yang disajikan di website ini?
  Sangat Menarik
  Menarik
  Kurang Menarik
  Biasa saja

Komentar Terakhir

  • tuning

    sangat membantu saya untuk memperdalam pemahaman tentang pembagian kewenangan pemerintah,,, ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video